Beberapa waktu lalu seorang teman mengajak saya untuk datang ke rumahnya di Payakumbuh untuk mencicipi buah duren Payakumbuh yang katanya sangat enak. Sebenarnya saya bukan seorang pemakan duren kelas berat, tapi karena dijanjikan diajak jalan-jalan mmelihat kota Bukittinggi sekaligus mengunjungi Danau Maninjau saya langsung mengiyakan ajakan tersebut..
 |
| Sawah Dengan Latar Perbukitan |
Tiba di Payakumbuh hari sudah siang, kami langsung makan siang di rumah makan yang pemandangan belakangnya langsung menghadap persawahan, konon katanya Dendeng Batokok di rumah makan tersebut sangat enak.. dan itu benar.. :) sungguh berbeda dengan bayangan saya terhadap sebuah daging dendeng yang tipis dan crispy, Dendeng Batokok yang disajikan adalah daging bakar yang empuk (agak mirip gepuk) disajikan dengan sambal hijau yang nikmat.. Setelah menikmati makan siang, kami kembali ke rumah dan mencicipi durian yang telah dijanjikan.. Durian Payakumbuh enak, mirip dengan durian montong di Thailand, namun for healthy reason saya tidak makan banyak cuma sekedar icip-icip saja.. Di Sumbar durian biasanya disajikan dengan lemang, sejenis makanan olahan ketan..
Setelah beristirahat sebentar kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Danau Maninjau. Dari Payakumbuh ke Maninjau kami tempuh sekitar 2,5 jam dengan berkendara santai dan mampir sebentar di Bukittinggi.. Tiba di Maninjau cuaca hujan, dan langit sudah mulai senja namun masih cukup terang untuk melihat pemandangan di sekeliling yang didominasi persawahan.
 |
| Danau Maninjau |
Mendekati Maninjau sesekali kami berpapasan dengan truk yang mengangkut ikan dari danau.. Teman saya menceritakan bahwa banyak penduduk Maninjau yang berprofesi sebagai nelayan.. Nelayan diketinggian 400 meter diatas permukaan laut :D ikan yang ternakkan mayoritas adalah ikan Nila, namun di daerah danau sendiri terdapat spesias ikan lain yang menurut teman saya cuma ada di Maninjau, yaitu ikan Rinuak, ikan kecil yang apabila dilihat sekilas agak mirip ikan teri Medan.
Sebelum tiba di Danau Maninjau kami melewati jalan menurun dan berkelok2 yang dikenal dengan kelok 44, yang ditandai dengan nomor pada setiap kelokan ekstrim (180 derajat).. jalan di kelok merupakan jalan kecil dua arah yang masing-masing hanya muat satu mobil, makanya setiap mau melalui kelokan teman saya selalu menekan klakson dan sesekali mengalah agar tidak berpapasan saat membelok..
Pemandangan danau yang spektakkuler sudah terlihat saat kami melintasi kelok 44..
 |
| Papan Angka di Kelok 44 |
Di Maninjau kami menginap di rumah mertua teman yang merupakan nelayan pemilik keramba, dan beliau menjanjikan untuk mengajak kami ke kerambanya esok hari.. malam itu saya tidak sabar untuk cepat2 pagi.. :)
Paginya kami pergi ke keramba di danau.. di kiri dan kanan jalan menuju danau saya meliha persawahan, pembibitan ikan nila dan sebagian rumah tua yang bercampur dengan rumah-rumah yang telah direnovasi..
 |
| Keramba Dari Tepi Danau |
Tiba di danau kami langsung menyeberang menuju keramba yang terdiri petakan-petakan berukuran 5x5 meter satu petak berisi 1 - 1,5 ton ikan nila yang masa panennya dalam 3 bulan.. namun pada bulan2 Desember hingga januari biasanya nelayan tidak menternak ikan, karena pada bulan tersebut biasanya cuaca kurang baik yang mengakibatkan belerang dari dasar danau keluar yang dapat menyebabkan kematian ikan2..
 |
| Keramba |
Cukup menarik bisa mengamati kehidupan orang2 yang sangat bergantung pada alam..
pulang dari keramba makan siang sudah disiapkan, menunya Palai Rinuak (pepes ikan Rinuak khas Damau Maninjau)
 |
| Palai Rinuak |
Karena berencana untuk pulang sebelum senja dan berjalan-jalan disekitar Bukittinggi maka kami memutuskan untuk SMP (sudah makan pulang).. perjalanan ke Bukkittinggi kami tempuh kembali melalui kelok 44, selanjutnya melalui jalan tikus melewati Ngarai Sianok, entah kenapa pemandangan Ngarai tidak sespektakuler yang saya bayangkan, atau mungkin karena saya melihatnya dari bawah, bukan dari Panorama seperti yang banyak dibicarakan orang..
 |
| Ngarai Sianok |
Dekat dengan jam Gadang Bukittinggi terdapat pasar yang menjual tekstil dan oleh-oleh yang oleh penduduk sekitar dinamakan pasar atas.. dibelakang pasar atas terdapat "foodcourt" nasi kapau Los Lambuang, jangan salah duga, Los lambuang ini bukanlah nama latin, kata Lambuang sendiri arti bahasa Indonesianya adalah lambung (perut) sedangkan Los (lolos)..
 |
| Jam Gadang Bukittinggi |
Sehabis dari Bukittinggi kami mampir sebentar di Harau.. Harau juga merupakan lembah yang menurut saya lebih spektakuler dibandingkan dengan Ngarai Sianok.. sekedar mampir sebetar melihat air terjun kecil yang jatuh dari atas tebing ke sebuah kolam kecil.. Kata teman saya dulu air terjun ada di banyak titik, dan airnya cukup deras, namun sekarang rata2 sudah kering.. sayang :(
 |
| Tebing Raksasa di Harau |
Tidak terasa liburan singkat saya sudah berakhir, seandainya ada waktu saya berniat untuk mengunjung bagian Sumbar lainnya yang katanya tidak kalah spektakuler..